Youth as Strength, Challange, and Threat


Oleh: Gamal Albinsaid

(Disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia)

Kita patut berbangga, McKinsey Global Institute dalam salah satu laporan yang berjudul “The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential” mengemukakan bahwa pada tahun 2030, Indonesia akan menjadi Negara dengan ekonomi terbesar ke 7 di dunia, Ini memberikan sebuah harapan dan optimisme ekonomi yang mendalam. Namun, disisi lain kita dikejutkan oleh kesenjangan sosial kita yang mencapai puncaknya dalam sejarah. Pada tahun 2008, perbandingan kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sebanding dengan 30 juta orang Indonesia. Ditahun 2009, kesenjangan kian besar dimana kekayan 40 orang terkaya sebanding dengan 42 juta penduduk Indonesia. Tidak sampai disitu, di tahun 2010, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sebanding dengan 77 juta penduduk Indonesia.

Tahun 2014 ini kita juga belum boleh berpuas diri, dimana Human Development Report yang berjudul Sustaining Human Progress: Reducing Vulnerabilities and Building Resilience meletakkan Indonesia diperingkat ke 108. Walaupun ini merupakan kenaikan dibanding tahun 2012 dimana kita terletak peringkat 121 dari 187 negara.

Kabar lain yang membanggakan kita hadir pada laporan Global Competitiveness index yang merupakan penialian tingkat kompetitif negara-negara di dunia yang dilaporkan oleh World Economic Forum. Kita melompat ke peringkat 38 dari 148 negara. Lompatan ini diperoleh setelah kita meraih nilai 4,53 dari sekala 7.

Kita juga dihadapkan pada jumlah penduduk miskin yang kian menanjak. Walauapun pemerintah melalui BPS melaporkan bahwa angka kemiskinan turun dari 35 juta pada tahun 2008 menjadi 31 juta orang Indonesia. Namun data itu berbeda dengan data dari ADB dan beberapa lembaga nasional dan internasional. Sebagai contoh ADB melaporkan peningkatan kemiskinan dari tahun 2008 sebanyak 40,4 juta menjadi 43,1 juta pada tahun 2010. Hal ini dikarenakan karena garis kemiskinan yang berbeda, dimana BPS menggunakan Rp 7.060 sebagai garis kemiskinan dan ADB menggunakan Rp 7.800. Lebih dari itu, jika kita menggunakan angka Rp 12.474 sebagai garis kemiskinan, maka angka kemiskinan meningkat 3 kali lipat. Dan ini sangat tidak manusiawi, karena mencabut hak-hak orang miskin yang seharusnya ditanggung oleh pemerintah.

Jika kita lihat kondisi saat ini, di perkotaan 58,38 persen pemuda memilih menjadi buruh, karyawan, dan pegawai. Sedangkan di perdesaaan 21,79 persen pemuda menjadi buruh, karyawan, dan pegawai. Pendekatan wirasusaha sosial bisa menjadi strategi khusus untuk peningkatan produktivitas pemuda yang memberikan penyelesaian pada isu ekonomi dan kesejahteraan Indonesia.

Permasalahan proporsi pemuda antar wilayah juga patut menjadi analisis dalam strategis poengembangan pemuda, dimana saat ini jumlah pemuda di Pulau Jawa menempati porsi terbesar, yakni 57,94 persen, diikuti Pulau Sumatera 21,71 persen, kemudian Pulau Sulawesi dan sekitarnya 8,13 persen, Pulau Kalimantan 5,78 persen, Pulau Bali dan Nusa Tenggara 5,2 persen, dan Papua yang hanya 1,2 persen.

Pemuda adalah sebuah kekuatan dimanapenduduk Indonesia yang berusia 16 sampai dengan 30 tahun adalah 26,23 persen. Fenomena lain yang menjadi pembahasan diberbagai media adalah bonus demografi, dimana Indonesia akan mengalami peningkatan usia produktif dan memuncak di tahun 2030 dengan 180 juta penduduk Indonesia berada dalam usia produktif. Ini bisa menjadi peluang atau ancaman. Dua faktor utama yang harus menjadi perhatian kita adalah kualitas pendidikan dan peningkatan lapangan kerja.

Pemuda sebagai tantangan harus dipahami bahwa rendahnya kualiitas pendidikan dan tidak berimbanganya komposisi kemampuan dengan kebutuhan lapangan kerja yang berimplikasi pada tingginya pengangguran pada pemuda. Tentunya ini bisa menjadi ancaman dalam persiapan bonus demografi. Banyak pengaruh sosial dan ekonomi muncul sebagai akibatnya, yaitu produktivitas turun, penurunan Income Generated Capacity, kriminalitas dan konflik yang meingkat, memicu konflik diakibatkan ketidakadilan sosial. Maka langkah strategis dalam rangka pembukaan lapangan kerja pemuda secara massive adalah langkah praktis yang segera dibuat. Proses integrasi atau penjembatanan antara edukasi dan pekerjaan adalah objek strategis yang bisa dikerjakan. Lebih dari itu, hadirnya MEA dalam waktu dekat akan memberikan tantangan besar bagi pemuda saat ini dimana kapasitas intelektulitas dan kapabilitas kerja menjadi kunci keberhasilan. Jika pemuda tidak mendapat dukungan pemerintah dalam antisipasi MEA maka akan memberikan pengaruh pada kekalahan persaingan di dalam negeri.

Pemerintah perlu menyediakan enabling support, yaitu berupa penyediaan sumber daya, jaringan, dan kapasitas penelitian dan pengembangan. Upaya sustainable youth development juga merupakan kunci yang perlu dipertimbangkan menjadi tema utama pengembanagn pemuda untuk memberikan investasi pengembangan pemuda dan kontinuitas pengembangan pemuda. Diharapkan pada akhrinya peningkatan kapasitas pemuda ini akan memberikan kekuatan daya saing global. Kita rindu dengan sosok B.J. Habibie dan K.H. Agus Salim sebagai role model bagi pemuda kita untuk memiliki daya saing global.

Peran pemuda dalam konteks politik juga perlu mendapatkan perhatian, dimana sifat apatis berupa apolitis dan asosial sudah mulai menguat di kalangan pemuda. Ini diakibatkan banyak hal fundamental, diantaranya ruang gerak aktif pemuda di bidang politik yang sempit. Rendahnya ruang gerak ini merupakan implikasi dari beberapa faktor, yaiu stigma kompetensi pemuda yang dianggap kurang, kepercayaan masyarakat kepada pemuda yang rendah, rendahnya regenerasi politik, dan kurangnya peluag politik. Semua hal ini beraktibat pada lambatnya rejuvenasi politik, dimana dimana regenerasi bukan hanya terjadi pada konteks person, tapi juga ide, gagasan, visi, pandangan, dan nilai-nilai kepemimpinan. Walaupun secara substansi hukum, pemuda diberikan ruang gerak politik, namun secara kultural hukum kita tidak memberikan peluang dan ruang gerak politik yang cukup.

Demikian sebuah analisis kekuatan, tantangan, dan ancaman bagi pemuda Indonesia. Dengan peningkatan pendidikan dan pembukaan lapangan kerja yang bertujuan meningkatkan daya saing pemuda kita dengan strategi sustainable growth development adalah kunci keberhasilan kita memanfaatkan peluang bonus demografi.