Merawat Sumedang dengan Berkomunitas

KABUPATEN Sumedang dianugerahi kekayaan demographis sebesar 1.200.000 orang. Penduduk ini tersebar di 283 desa. Passion (minat) masing-masing orang jelas sangat beragam. Latar belakang pendidikan, usia, gender, dan orientasi mereka akan menjadi faktor fundamental kemana diri mereka akan dilabuhkan.

Disamping kekayaan demographis yang tercatat secara kuantitatif tersebut, Sumedang juga sedang bermetamorfosis menjadi Center of Excellence kedua setelah Yogyakarta. Center of Excellence dapat ditafsirkan sebagai suatu kota yang di dalamnya terdapat kekuatan pengetahuan dengan dibuktikan secara fisik lewat kehadiran Perguruan Tinggi yang melahirkan kaderisasi kepemimpinan dan cendekiawan di masa depan.

Kehadiran Perguruan Tinggi seperti Intitut Tekhnologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN), Perguruan Tinggi Sebelas April (PTSA), Universitas Winaya Mukti (UNWIM), dll di Sumedang menjadi poros dan daya pikat tersendiri bagi Putra/i terbaik bangsa menuntut ilmu ke kota tahu ini. Selain itu, Kecamatan Jatinangor sebagai etalase Sumedang juga ikut berkontribusi memikat derasnya investasi di daerah ini hingga Sumedang meraih Investment Award pada tahun 2014 silam.

Modal sosial dan kapital tersebut semestinya dapat dirawat dan ditingkatkan kedepan. Salah satu strategi untuk membangun sebuah kota yang memikat secara sosial, ekonomi, lingkungan, tekhnologi, politik-hukum hanya bisa dicapai dengan berkomunitas. Komunitas yang berasal dari bahasa latin Communitas adalah sebuah ruang kreatif yang diisi oleh individu-individu kreatif yang berlatar belakang sosial ekonomi untuk membangun kepentingan publik. Kepentingan publik yang dimaksud dapat ditafsirkan sebagai kota. Kota memiliki fungsi yang begitu banyak, antara lain kota berfungsi sebagai pusat produksi, pusat perdagangan, pusat pemerintahan, pusat kebudayaan, pusat penopang pusat kota. Fungsi yang sedemikian banyak ini tidak mungkin dapat ditopang dengan optimal hanya oleh elemen pemerintah (Government) saja. Dalam alam demokrasi saat ini, elemen seperti pengusaha (private), media, dan masyarakat (society) juga semestinya ikut terlibat dalam merekayasa kota.

Sejak tahun 2014, di Jl. Wirahadikusumah No 18 Gg Yusuf RT 02 RW 05, Desa Ganeas berdiri Forum .SMD yang merupakan akronim dari Sumedang. Forum ini merupakan kumpulan dari komunitas dan individu kreatif yang ada di Sumedang. Inisiatif ini muncul setelah beberapa anak muda Sumedang berdialog dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) yang konon didirikan oleh Ridwan Kamil yang kini menjabat sebagai Walikota Bandung. Bandung sendiri memiliki 4000 Komunitas sampai dengan tahun 2014 (Kompas, 2014). Sementara BCCF yang didirikan sejak tahun 2012 telah mengelola kurang lebih 52 komunitas kreatif yang karya-karyanya memberikan perhatian luas di dunia.

Di Sumedang, komunitas telah lama bermunculan, akan tetapi dikarenakan minimnya manajemen pengelolaan, sumber dana, anggota, sampai akses antar komunitas menjadikan banyak komunitas di Sumedang seakan mati suri. Akhirnya, kemunculan Forum .SMD yang berdiri di sebuah rumah yang begitu luas dengan dikelilingi oleh pekarangan yang sejuk memberikan komitmen baru untuk menampung ide-ide kreatif yang muncul dari individu dan komunitas di Sumedang. Forum .SMD memiliki visi untuk menjadikan Sumedang sebagai Future City (Kota Masa Depan) yang mengawinkan konsep Smart City (Kota IT) dan Creative City (Kota Kreatif).

Kota masa depan adalah kota yang memiliki akses terhadap informasi tekhnologi yang luas. Kota tersebut tidak akan lagi keterbatasan informasi, melainkan kebanjiran informasi. Setiap desa, kecamatan, sampai dengan SKPD akan menjalankan manajemen secara canggih. Proses Good Governance akan menjadi unsur primer dalam menjalankan roda pemerintahan. Warga pun diharapkan bisa berkomunikasi secara langsung dengan para elit baik kepala desa, camat, kepala dinas, Bupati – Wakil Bupati melalui media sosial. Komunikasi yang tanpa tapal batas ini akan menciptakan pemerintahan yang efisien karena roda pemerintahan akan terbantu oleh pola komunikasi yang terbuka dan transparan. Disamping itu, kota masa depan juga berpijak pada pilar kreatifitas. Ruang publik yang hakikatnya digunakan sebagai ruang terbuka hijau dan menjadi medium bertemunya warga antar kelas dan wilayah harus dihidupkan. Ruang kreatif ini merepresentasikan bagaimana kualitas warga suatu kota. Oleh karena itu, diharapkan kehadiran Forum .SMD ini dapat menjadi kawahcandradimuka bagi anak-anak muda kreatif di Sumedang untuk merawat kota ini sekarang dan di masa yang akan datang. #AyoBangunSumedang

Reza Zaki

@rezaszaki

Ketua Rumah Imperium

Koordinator Forum Putra Daerah Membangun