Sherwin Meynard Robinson: Pelita Rote di Tengah Kegelapan


Oleh: Bella Moulina

Kiranya saya tak terlalu muluk membuat judul di atas sebagai gambaran bahwa Sherwin Meynard Robinson Ufi adalah sang pelita yang memancarkan cahayanya saat gelap menerpa. Penerima beasiswa Australia Award Scholarship ini adalah sosok yang menginspirasi bagi pemuda di Rote.

Sebuah ide lahir dari pemikirannya. Pada tanggal 2 Juli 2011, sebuah komunitas bernama Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao lahir dari keresahannya dan teman-temannya. Bertepatan dengan pembentukan komunitas itu pula, ia dan teman-temannya menggalang Gerakan 1000 Buku. Ia dan teman-temannya bermimpi akan hadir satu taman baca di setiap kampung yang ada di Rote Ndao.

Lahir dan besar di pulau terselatan di Indonesia membuatnya memiliki rasa memiliki cukup tinggi. Dari rasa itu tumbuhlah keinginan untuk berbagi kepada anak-anak yang haus ilmu pengetahuan. Lewat Gerakan 1000 Buku, impian tersebut tercapai. Kini telah hadir 9 taman baca di 4 kecamatan di Pulau Rote. Menyusul akan dibentuknya taman baca di kecamatan lain yang dikelola oleh masyarakat daerah setempat.

Alumni pelatihan Forum Indonesia Muda ini adalah seorang PNS yang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao. Di sela-sela aktivitas seorang pegawai dan suami dari istrinya, Kak Sherwin menjadi sosok yang patut diteladani. Kesibukan bukan menjadi penghalang baginya untuk berbagi. Baginya, melakukan sesuatu yang berdampak positif bagi lingkungan adalah keharusan bagi pemuda.

Sherwin adalah contoh pemuda masa kini yang tak hanya banyak bicara. Ia justru melihat potensi dan perubahan positif yang harus dikerjakan di daerahnya, tanpa harus menunggu orang lain bergerak. Justru secara tidak langsung ia telah menggerakkan orang lain untuk berkontribusi bagi Rote. Sifatnya yang mau belajar dan rendah hati membuat ia selalu ingin mengembangkan diri, baik untuknya sendiri maupun untuk komunitasnya. Tidak heran kalau dedikasinya ini membuat penghargaan Pelita Nusantara 2014 kategori pendidikan yang mewakili Nusa Tenggara Timur tersemat dalam daftar prestasinya

Sumber: https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/bella-moulina-2/pelita-rote-di-tengah-kegelapan

sherwin

Jakarta – Di usianya yang masih 30 tahun, Sherwin Meynard Robinson Ufi telah berhasil menjadi agen perubahan di kampung halamannya di Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bersama beberapa temannya pada 2 Juli 2011, dia menggagas berdirinya Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao (Kamu Rote Ndao).

Rote Ndao merupakan Kabupaten paling selatan sekaligus beranda terdepan di wilayah selatan NKRI. Di pulau yang kering dan tandus ini, sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dengan bertani atau menjadi nelayan.

Namun dikatakan Sherwin, produksi sektor primer di Rote masih minim dan hanya bersifat subsisten, sehingga tidak bisa berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan di daerahnya. Sumber daya alam yang terbatas inilah yang kemudian menjadi faktor utama melambatnya perubahan di Rote.

Tetapi Sherwin punya keyakinan, modal utama orang Rote untuk keluar dari kungkungan ketertinggalan dan membangun daerahnya adalah dari orang Rote itu sendiri. Karena sejarah mencatat, sekalipun Rote minim sumber daya alam, pulau ini memiliki sumber daya manusia yang hebat.

Prof. W.Z. Johannes (ahli rontgen pertama), Prof. Dr. Herman Johannes (rektor pertama Universitas Gadjah Mada), Dr. Adrianus Mooy (mantan Gubernur Bank Indonesia), Pdt. Dr. Octovianus (teolog Kristen terkemuka), dan I.C.W. Nellu (mantan Direktur Utama Bank Mandiri), merupakan contoh nyata putra Rote yang memperoleh pencapaian luar biasa dalam kiprah mereka.

Tantangan saat ini menurut Sherwin adalah melahirkan kembali generasi Rote Ndao yang berkualitas. Karena faktanya, kondisi pendidikan di Kabupaten Rote Ndao masih jauh tertinggal. Berbagai sarana pendidikan juga masih sangat minim.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi berdirinya “Kamu Rote Ndao”. “Banyak sekali yang mengkritik pembangunan di Rote Ndao, namun mereka juga tidak melakukan apa-apa. Komunitas ini hadir karena kami tergerak untuk berkontribusi melakukan perubahan di Rote Ndao melalui kegiatan pengembangan SDM, lingkungan, dan juga budaya dengan potensi yang kami miliki,” kata Sherwin Ufi kepada Beritasatu.com, Rabu (19/3).

Upaya yang dilakukan komunitas ini untuk pengembangan SDM salah satunya adalah dengan membiasakan budaya membaca. Karena itu bertepatan dengan pembentukan “Kamu Rote Ndao”, dibentuk juga “Gerakan 1000 Buku”, yaitu penggalangan buku untuk anak-anak setempat.

“Gerakan ini hadir karena kami melihat bukan hanya minat baca warga saja yang kurang, namun akses untuk mendapatkan buku-buku bacaan juga sangat minim. Bahkan di Rote Ndao tidak ada satu pun toko buku, jadi warga harus menyebrang laut ke Kupang untuk membeli buku. Sehingga kami berfikir perlu adanya taman bacaan untuk mendorong kesadaran masyarakat Rote Ndao tentang pentingnya membaca,” ungkap PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao tersebut.

“Gerakan 1000 Buku” ini memanfaatkan internet dan social media untuk mempromosikan kegiatannya, antara lain Twitter dengan akun @kamurotendao, Facebook dengan akun Khamu Rote Ndao, blog bernama kamurotendao.wordpress.com, hingga YouTube.

Gerakan ini juga bermitra dengan berbagai lembaga maupun perseorangan yang memiliki visi yang sama, serta bekerja sama dengan pengelola tempat-tempat umum untuk melakukan pengumpulan buku dengan metode drop box.

“Buku-buku dari para donatur ini kemudian kami distribusikan ke taman-taman bacaan yang sudah terbentuk,” jelasnya.

Kabupaten Rote Ndao memiliki 89 desa/kelurahan (kampung). Visi gerakan ini adalah “1 kampung 1 taman bacaan”. Saat ini baru ada 10 taman bacaan yang tersebar di empat kecamatan, yaitu di kota Ba’a (ibu kota Kabupaten Rote Ndao), kecamatan Rote Selatan, kecamatan Rote Barat Laut dan kecamatan Rote Tengah.

Taman-taman bacaan ini dibangun di pusat-pusat pemukiman dan konsentrasi aktivitas anak dan pemuda. Umumnya memanfaatkan rumah warga yang juga punya kepedulian yang sama akan masa depan Rote Ndao.

Tidak sekadar mengumpulkan buku dan mendirikan taman bacaan, menurut Sherwin gerakan ini juga dibarengi dengan berbagai kegiatan yang integratif untuk mendorong transformasi budaya bertutur dan mendengar di Rote Ndao menjadi budaya membaca dan menulis.

“Kalau hanya sekadar menjadi tempat membaca, biasanya umur taman bacaannya tidak akan lama. Makanya kami juga melakukan bimbingan belajar MIPA dan English Club. Ada juga permainan edukatif pada anak-anak,” imbuhnya.

Di samping itu, anak-anak juga diajarkan untuk menceritakan kembali buku yang telah dibacanya, sehingga melatih daya ingat, mengasah imajinasi ,dan melatih kemampuan verbal dan kognitif mereka.

Atas kontribusinya inilah, Sherwin baru saja terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan “Pelita Nusantara” dalam “Indonesia MDGs Awards 2013”.

“Sejatinya Gerakan 1000 Buku dan penghargaan Pelita Nusantara ini merupakan pencapaian bersama dan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk rekan-rekan pengelola taman bacaan, dan Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao. Jelas pencapaian sekarang terus memotivasi kami untuk tetap melangkah,” ujar Sherwin yang juga baru saja mendapatkan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) pada Februari 2014.

Hal yang juga penting, lanjut Sherwin, penghargaan Pelita Nusantara Indonesia MDGs Awards juga didedikasikan untuk ratusan, bahkan ribuan anak-anak di Rote Ndao, titik terselatan NKRI, untuk menularkan minat baca kepada mereka. ‬

sumber: http://www.beritasatu.com/pendidikan/172560-gerakan-1000-buku-bangun-rote-ndao-lewat-peningkatan-minat-baca.html