Dalu Nuzlul Kirom, Penggagas Kawasan Wisata Edukasi Dolly


 

Gerakan Kami

“Ketika segala sesuatu runtuh berantakan, kita dapat merancang ulang, mencetak ulang, dan membangun ulang.” (Muhammad Yunus, Peraih Nobel Perdamaian 2006)

Puluhan tahun, masyarakat Dolly Kelurahan Putat Jaya berkubang pada peradaban gelap. Semenjak wacana penutupan lokalisasi Dolly digulirkan, ada kelompok yang setuju dengan penutupan lokalisasi dan ada pula yang menolak.

Mereka yang mendukung penutupan lokalisasi Dolly, beralasan bahwa keberadaan Dolly melanggar syariat agama dan etika masyarakat Indonesia. Alasan kuat lain adalah ingin menyelamatkan anak-anak di Dolly dari dampak negatif lingkungan lokalisasi. Ada pula misi untuk menyelamatkan wanita yang terjebak di pusaran hitam lokalisasi Dolly.

Kelompok yang berbeda memiliki beberapa alasan logis kenapa mereka menolak penutupan lokalisasi. Dari sisi ekonomi,ada kekhawatiran sumber penghasilan masyarakat akan hilang jika Dolly ditutup. Dari segi kesehatan, dikhawatirkan terjadi penyebaran penyakit HIV AIDS yang lebih luas jika aktivitas prostitusi tidak lagi terlokalisir.

Pada akhirnya, tanggal 18 Juni 2014 secara simbolis menjadi akhir sejarah panjang dari lokalisasi Dolly. Dengan keberadaan beberapa pihak yang pro dan kontra terhadap penutupan Dolly,ada dua kemungkinan yang bisa muncul pasca penutupan lokalisasi beberapa bulan lalu. Pertama, wilayah eks lokalisasi Dolly ditata dengan wajah baru, jauh dari aktivitas prostitusi dan budaya lama yang melingkarinya. Kedua,aktivitas prostitusi di Dolly buka kembali dan peradaban lama muncul dengan wajah lebih menarik.

Disinilah pertarungan peradaban di eks lokalisasi Dolly sedang terjadi. Terjadinya kemungkinan pertama atau kedua sangat bergantung pada pihak mana yang paling kuat untuk membangun peradaban baru disana.

Dari sinilah pertama kali kami muncul. Beberapa bulan sebelum penutupan lokalisasi Dolly, kami sudah bergerak untuk memantapkan langkah pemkot dalam menutup lokalisasi Dolly. Setelah penutupan kami tetap mengawal rehabilitasi Dolly. Kami, para pemuda – mahasiswa di Surabaya, merasa bahwa kata sepakat dengan penutupan Dolly saja tidak cukup. Mengumpulkan tandatangan dukungan masyarakat terhadap penutupan lokalisasi Dolly juga belum cukup. Kami ingin terlibat langsung dalam merancang, mencetak dan membangun ulang peradaban Dolly yang lebih bermartabat. Dan kami menamai diri dengan Gerakan Melukis Harapan.

Sebuah Perenungan

Seorang wanita pekerja seks komersial, mencurahkan isi hatinya, “Kalian pikir saya mau bekerja seperti ini? Keluarga saya di desa tidak ada yang tau bahwa pekerjaan saya adalah melayani lelaki hidung belang. Mereka hanya tau bahwa saya sedang bekerja di kota dan mengirimi mereka nafkah setiap bulannya. Di desa tidak ada sumber penghasilan yang mampu mencukupi keluarga saya. Sering batin ini merasa tersiksa”

Curhatan tersebut membawa kami pada sebuah perenungan mendalam. Permasalahan di Dolly hanyalah permasalahan hilir. Hulu permasalahannya adalah kesejahteraan daerah / perdesaan yang kurang terjamin. Dalam perspektif yang lebih besar, di dalam bingkai Negara Republik Indonesia ini, kesenjangan kesejahteraan menganga lebar, antara si kaya dan si miskin, antara perkotaan dan pedesaan.

Republik ini memang sudah berupaya untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan melalui otonomi daerah, dimana pembangunan bersifat desentralisasi, tidak lagi terpusat. Secara politik, kepala daerah dan anggota DPRD dipilih langsung oleh rakyat di wilayahnya. Dalam hal administrasi keuangan, sudah ada pembagian dan pengelolaan keuangan oleh daerah masing-masing.

Namun kesejahteraan masyarakat daerah masih belum terjamin. Angka urbanisasi semakin tinggi. Potensi desa dan daerah yang jauh dari perkotaan tetap tertidur. Belum lagi kasus korupsi yang dilakukan oleh Kepala Daerah di beberapa wilayah, semakin memperparah kesengsaraan rakyat.

Di sisi lain, para intelektual mudanya masih banyak yang apatis terhadap kondisi daerah asalnya. Seusai menuntut ilmu yang tinggi, mereka bekerja jauh dari daerahnya, berorientasi mensejahterakan dirinya. Daerah asalnya hanya dilirik saat mereka sudah tua, sebagai tempat bersantai di akhir usia.

Mimpi Gerakan Melukis Harapan

Gerakan Melukis Harapan memiliki mimpi menciptakan pembaharuan sosial untuk mewujudkan kesejahteraan umum, sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD 1945.

Pembaharuan sosial yang ingin kami ciptakan bisa dianalogikan sebagai sebuah lukisan yang terdiri atas berbagai warna harapan masyarakat. Aktivitas melukis harapan memiliki tiga unsur utama, yakni Kanvas, Kuas, dan Pelukis.

Pertama, kanvas. Kanvas adalah masyarakat yang mengalami permasalahan sosial, baik dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan atau lainnya. Permasalahan masyarakat dalam setiap daerah berbeda-beda, begitu pula kondisi budaya masyarakatnya. Masyarakat pertama yan g ingin dilukis oleh Gerakan kami adalah eks lokalisasi Dolly.

Kedua,kuas. Kuas adalah analogi dari nilai-nilai yang kami masukkan untuk menyelesaikan permasalahan sosial. Nilai-nilai tersebut bisa bersumber dari agama dan budaya Indonesia. Dalam menyelesaikan permasalahan sosial, tidak selalu berfokus pada bidang permasalahannya. Justru yang paling penting adalah memasukkan nilai kesadaran kepada masyarakatnya untuk mau berubah.

Ketiga, pelukis. Pelukis yang dimaksud dalam gerakan ini adalah para pemuda daerah yang mengambil langkah konkrit untuk melukis harapan masyarakat daerahnya. Kami menyebut mereka pelukis harapan. Pelukis harapan adalah pemuda-pemudi yang tercerahkan, yakni mereka yang sadar akan keadaan kemanusiaan, budaya dan permasalahan di masyarakatnya. Kesadaran itu membuat hatinya tergerak untuk menciptakan perubahan masyarakat kearah yang lebih baik.

Dengan demikian, pelukis harapan tidak dilihat dari pendidikan formal-akademis, atau dari pekerjaan mereka, namun dari ukuran kesadaran dan rasa tanggungjawabnya. Pelukis harapan bisa pemuda yang berwirausaha ataupun yang bekerja, mereka yang mahasiswa atau sudah wisuda, pemuda yang pernah berpendidikan atau bahkan yang tidak pernah sekolah .

Pelukis harapan yang melakukan pembaharuan tidak perlu terdiri atas seluruh pemuda yang dilahirkan dari suatu daerah. Seperti apa yang dikatakan oleh Rhenald Kasali, “Dunia berubah bukan dimulai dari banyak orang tetapi dimulai dari sedikit orang-orang pilihan”. Cukup mereka yang tercerahkan dan kemudian mempengaruhi orang sekitarnya untuk bergerak, yang menjadi para pelukis harapan.

Setelah memiliki kesadaran diri, pelukis harapan juga harus mampu menularkan kesadaran dan semangat perubahan tersebut kepada lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Selain menanamkan semangat perubahan kepada masyarakat, pelukis harapan juga harus menanamkan kesadaran kepada pemuda daerah yang tersebar di seluruh Indonesia, untuk tetap berpartisipasi dalam melukis harapan masyarakat daerahnya. Kontribusi bisa berupa donasi, pikiran, jaringan dan apapun yang dibutuhkan untuk membuat lukisan indah bagi daerahnya. Jadi, belum bisa dikatakan pelukis harapan, manakala yang bersangkutan belum bisa menggerakan pemuda lainnya atau masyarakatnya untuk bersama-sama melakukan perubahan daerahnya ke arah lebih baik.

Inilah Gerakan Melukis Harapan. Dimulai dari aktivitas pengawalan lokalisasi Dolly pasca penutupan, kami menyadari bahwa kesenjangan kesejahteraan antar daerah masih menganga lebar maka kami bermimpi menggapai cita-cita Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan umum.

Disini kami juga belajar menjadi pemimpin yang menyatu dengan rakyat, menjadi cahaya harapan bagi mereka. Pemimpin masa sekarang suka bicara atas nama rakyat, namun sering menyengsarakan rakyat. Bisa jadi masa muda mereka tidak pernah bersentuhan langsung dengan rakyat, apalagi menyelesaikan masalah rakyat. Kelak, jika kami bicara tentang rakyat, kami paham, siapa itu rakyat, apa kebutuhan rakyat. Karena masa muda kami pernah kami abdikan untuk menjadi pelukis harapan rakyat.

Kami bekerja membuat pembaharuan sejarah. Bila upaya itu telah selesai, kami sudah harus siap dengan pembaharuan lainnya. Langkah kami adalah bergerak ke depan, bukan menunggu masa depan menghampiri kami. Bagi kami, satu-satunya cara mengetahui masa depan adalah dengan menciptakannya dalam imajinasi kami, dan dengan izin Allah, kami menggapainya

www.melukisharapan.org

Surabaya, Oktober 2014

Dalu Nuzlul Kirom, S.T (Pendiri / Ketua Yayasan Gerakan Melukis Harapan)

—–

dalu2

Wirausaha bagi Dalu Nuzlul Kirom bukan hanya bisnis komersial. Baginya, wirausaha juga harus membawa perubahan sosial. Karena itulah, dia berwirausaha sembari mengubah kawasan bekas lokalisasi Dolly di Surabaya. Perubahan itu dia bawa dengan mengusung bisnis wisata edukasi. Dari usaha bersama teman-temannya itu, Dalu menyabet penghargaan sebagai Pemenang Kedua Kategori Pariwisata dan Kreatif Wirausaha Mandiri 2014.

Masalah sosial di kawasan Dolly dinilai tidak akan selesai hanya dengan penutupan lokalisasi pada Juni 2014. Pascapenutupan, ada masalah sosial selanjutnya, terutama dalam perbaikan masyarakat dari segi ekonomi. Hal itulah yang melatarbelakangi Dalu membuat konsep wisata edukasi dengan sejumlah temannya di kawasan bekas lokalisasi. Konsep tersebut ingin mengubah kawasan sekaligus masyarakat sekitarnya menjadi lebih baik dengan bisnis mandiri.

Dalu mengajak masyarakat sekitar untuk berbisnis dengan terlebih dahulu memberi pelatihan dan bantuan permodalan. Dia mengakui, tidak mudah mengajak masyarakat untuk beralih bisnis setelah puluhan tahun bergelut di lokalisasi. Penghasilan yang besar dari bisnis prostitusi membuat masyarakat kesulitan untuk mengganti bisnis.

“Sebelum ditutup, perputaran uang di sana bisa sampai Rp 1,2 hingga Rp 2 miliar, bisnisnya prostitusi dengan ribuan pekerja seks, narkoba, karoke, tukang parkir, laundry, dan warung kopi,” tutur Dalu kepada Republika, belum lama ini. Bahkan, penghasilan tukang parkir di kawasan Dolly bisa mencapai Rp 30 juta per bulan.

Dengan kondisi itu, tawaran dari Dalu dan teman relawannya tidak hanya menyediakan materi. Dalu ingin masyarakat bisa kompak dan mandiri dengan bisnis yang lebih sehat, yakni berbisnis kuliner dan jasa kreatif lain. Gerakan perubahan itu dimulai pada akhir Mei 2014. Namun, komunitas warga baru dibentuk pada 10 September 2014. Komunitas tersebut terdiri atas berbagai kalangan, seperti dosen, mahasiswa, pengusaha, hingga aktivis sosial.

Seiring waktu, komunitas warga tersebut mampu menarik 80 relawan. Mereka menawarkan perubahan ke masyarakat secara perlahan. Pada awal program, Dalu dan relawan lainnya mendapat respons resistensi dari masyarakat. Dalu bercerita, mereka diminta menjelaskan kepada masyarakat yang kontra akan gerakan perubahan saat pertama kali mengutarakan rencana kegiatan relawan. “Ketika itu, kita berlima dan mereka ada 30, badannya besar dan cara bicaranya membuat kita tertekan,” ungkapnya.

Kelompok masyarakat tersebut menolak penutupan lokalisasi Dolly karena pendapatannya akan hilang. Dalu dan kawan-kawan pun ditantang untuk membuat kegiatan yang memberi jaminan stabilitas ekonomi masyarakat pascapenutupan lokalisasi.

Kondisi tersebut ternyata berubah sepekan kemudian. Dalu dan relawan lain menggagas acara nonton pertandingan piala dunia bareng masyarakat. Acara tersebut mendapat sambutan dari masyarakat. Selain itu, penutupan kawasan Dolly saat itu juga terjadi menjelang Ramadhan. Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan Dalu bersama relawan lainnya untuk mengadakan berbagai kegiatan, seperti bazar, pesantren kilat, membuka taman baca sambil menyampaikan materi wirausaha.

Konsep yang Dalu usung bersama relawan adalah pendekatan kebersamaan. Sehingga, mereka berkegiatan bersama masyarakat. “Tidak menjadikan masyarakat sebagai objek, tapi subjek,” katanya. Pendekatan selanjutnya dilakukan ke pemimpin masyarakat di tingkat rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), camat, dan lurah. “Sifatnya tidak memaksa, lebih baik kita berurusan dengan yang mau berubah, nantinya semangat perubahan ke arah yang lebih baik itu akan menular,” katanya.

Masyarakat juga difasilitasi dengan pendanaan untuk mendukung usaha. Hingga saat ini, dana tersebut mencapai Rp 300 juta yang disalurkan untuk berbagai usaha. Dana dibelikan alat usaha, seperti mesin jahit, peralatan makan, mesin cuci, dan modal usaha. Bisnis yang saat ini telah digeluti masyarakat antaralain usaha telur bakar, bawang goreng, kue kering, kuliner, batik, sabun cuci, hingga pembuatan sepatu.

Dana tersebut bersumber dari Yayasan Melukis Harapan yang menghimpun dana dari masyarakat. Selain menjadi modal usaha, dana disalurkan untuk menyewa taman baca masyarakat, mendirikan tempat belajar Alquran, dan menyekolahkan anak-anak yang putus sekolah.

Dalu yang merupakan lulusan Teknik Elektro ITS Surabaya tersebut mengatakan, usahanya adalah menjadi rekan masyarakat. Karena itu, masyarakat yang menerima omzet tiap bulan. Penghasilan warga yang masuk dalam usaha wisata edukasi sekitar Rp 2,7 juta per bulan. Saat ini, Dalu dan relawan sudah mampu menumbuhkan minat wirausaha pada 30 orang. Namun, peserta pelatihan wirausaha yang dia gagas sudah tembus 100 orang.

Selain menggerakkan masyarakat, Dalu juga merupakan pengusaha di bidang teknologi informasi dan konveksi. Dengan modal pengetahuan wirausahanya, dia ingin menjadikan Dolly sebagai kawasan pariwisata edukasi. Perubahan di kawasan Dolly nantinya dia harapkan bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain yang mengalami masalah sama.

“Ketika di sana bisa berubah maka seharusnya Dolly bisa menginsipirasi masyarakat lainnya bahwa melakukan perubahan secara radikal itu adalah hal yang logis,” katanya.

Pengembangan Dolly ke depan juga akan membuat masyarakat yang berkunjung tidak hanya jalan-jalan dan wisata kuliner. Masyarakat bisa belajar mengenai sejarah Dolly dan perubahan yang terjadi. Dalu mengatakan, rencana itu ingin dia wujudkan dalam satu hingga dua tahun ke depan. Selain itu, dia ingin memiliki manajemen keuangan di yayasan lebih stabil dan lebih banyak membantu masyarakat.

 

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/koran/kreatipreneur/15/04/10/nmkwsn31-dalu-nuzlul-kirom-penggagas-kawasan-wisata-edukasi-dolly-bisnis-wisata-edukasi-bersama-warga-dolly

 

Biodata Pengusaha Sosial:

Nama lengkap: Dalu Nuzlul Kirom

Tempat, tanggal lahir: Surabaya, 23 April 1989

Alamat rumah: Kalikepiting Pompa no 32 B Surabaya

Website: www.melukisharapan.org

melukisharapan@gmail.com

—–

melukisharapan-576x450

Kehidupan di bekas lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yaitu Gang Dolly telah berubah drastis usai ditutup pemerintah kota Surabaya. Tidak hanya pekerja seks komersial (PSK), masyarakat di lingkungan sekitar juga mulai kehilangan pendapatan.

CEO Melukis Harapan, Dalu Nuzlul Kiram memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan bisnis. selain meraup untung, bisnis ini juga membantu mantan PSK dan warga yang telah kehilangan pendapatan. sebagai kesempatan usaha, Dalu berkeinginan menggarap Dolly sebagai pusat bisnis baru.

Dalam pengembangannya, Dalu telah membina lima orang mantan PSK Dolly dan warga sekitar. “Total saat ini PSK ada lima orang, warga bisa sampai empat RT. Dan anak-anak saat ini ada 40an orang,” katanya kepada merdeka.com di Jakarta.

Pembinaan yang dilakukan perusahaan Dalu sebenarnya lebih difokuskan kepada industri usaha kecil menengah (UKM), mulai dari industri fesyen, makanan, hingga wisata sejarah. Hasilnya pun mengejutkan. Untuk fesyen saja, kata Dalu, kini Dolly mempunyai batik tersendiri bernama Batik Jarak. Harga untuk batik ini biasa dijual berkisar Rp 300 ribuan. “Tapi ini biasanya sesuai pesenan saja,” ungkapnya.

Sedangkan industri boga, banyak berbagai tipe makanan maupun cemilan yang sudah dipasarkan, seperti telur asin, telur bakar, kue kering, nugget dan lainnya.

Dari keseluruhan industri itu, Dalu mengakui bahwa penjualan makanan memang lebih laku. “Telur asin dan telur bakar paling laku, karena kan warga sekitar juga banyak yang beli.”

Sebenarnya Dalu dan timnya masih terkendala dana untuk lebih memajukan pengembangannya wirausaha sosialnya ini. Dalam hitungan kasarnya, dana yang diperlukan bisa mencapai Rp 1 miliar.

Meski ada hambatan, Dalu tidak menyerah begitu saja. Selama ini keuntungan penjualan industri UKM warga dan eks PSK Dolly justru dikembalikan lagi agar usaha tersebut makin berkembang cepat. Dalu tak memungkiri bantuan dari Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya ada. Namun, pihaknya tidak mau menerima sejumlah uang dari para pejabat daerah tersebut.

“Takutnya nanti ada aneh-aneh, apalagi itu kan uang negara, uang rakyat,” ungkapnya. Meski ogah terima, pihaknya langsung mengarahkan pemerintah kota agar bantuan itu tetap diterima warga bekas lokalisasi Dolly secara langsung.

Dia membeberkan, contoh bantuan pemerintah kota Surabaya, yakni membeli 12 wisma bekas lokalisasi Dolly. Sebelumnya saat penutupan, pemerintah kota Surabaya juga membeli satu wisma terbesar di Dolly, yakni Wisma Barbara. Sehingga total ada 13 wisma yang dimiliki pemerintah kota saat ini.

Pembelian belasan wisma itu tentu bakal membantu langkahnya menghidupkan Dolly. “Kami inginnya bekas wisma yang dibeli pemerintah itu dijadikan sentra oleh-oleh atau tempat industri,” terangnya.