Jepriadi Membangun Rumah Baca Semayong Institute


Siswa SDN 30 Semayong saat registrasi peminjaman buku

Semayong – Senin pagi, jam menunjukkan pukul 10.09 wib. Beberapa siswa Sekolah Dasar Negeri Nomor  30 Semayong terlihat berlari lari kecil, seakan akan ingin menjemput sebuah barang mainan ataupun hadiah dari seorang ayah. Rupa-rupanya, langkah cepatnya tersebut bukanlah untuk menjemput mainan ataupun hadiah dari sang ayah, tetapi adalah untuk menjemput mimpi mereka, mengunjungi rumah baca “Semayong Institute”. Maklum, hal ini (perpustakaan/rumah baca) merupakan sesuatu yang masih sangat langka di sebuah desa berpenduduk 680-an kepala keluarga (KK) ini.

Sejak masuknya bantuan buku oleh Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat melalui LPS-AIR pada akhir januari lalu, kunjungan warga selalu ada, walaupun yang intensitasnya tinggi adalah siswa SD, mulai dari siang mereka pulang sekolah sampai sore. Selanjutnya malam hari diramaikan oleh para pengurus Karang Taruna “Tunas Harapan Bersama” Desa Sungai Kumpai. Warga biasa/masyarakat awam belum ramai berkunjung, selain 2 entitas tadi, dan sepertinya harus ada sebuah aktivitas yang di desain untuk menarik warga biasa untuk berkunjung memanfaatkan sumber ilmu yang tersedia itu.

Setiap pulang sekolah puluhan anak SD memadati Rumah Baca yang berukuran 4×8 meter itu. Meski status bangunan rumah baca masih menumpang dirumah Direktur sementara “Semayong Institute”, karena Sekretariat bersama Karang Taruna dan Semayong Institute masih dalam kondisi rusak, tak menyurutkan semangat pengurus untuk memanfaatkan secepatnya buku yang telah diperbantukan oleh perpustakaan provinsi. Begitu juga para siswa yang sudah beberapa kali mengunjungi Rumah Baca tersebut, bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana mereka mendapat bahan bacaan untuk membuka wawasan mereka.

Melihat semangat generasi muda yang antusias untuk memanfaatkan segudang ilmu yang ada di Rumah Baca tersebut, membuat para pengelola berpikir untuk membuat agenda agenda yang tujuannya memberikan motivasi bagi anak-anak usia sekolah untuk mulai mencintai buku.  Karena fasilitas (buku) sudah sangat memadai untuk dimanfaatkan warga.

Yuni, siswa kelas 4 SDN 30 Semayong, dengan nada kekanak-kanakan ia bertanya kepada pengelola rumah baca untuk meminjam buku. “Bang, bise ke bukunye di pinjam bang? Tanyanya sambil memperlihatkan buku yang akan dipinjam nya dengan bahasa melayu sambasnya.

P_20150302_110033

“Oh iye dek, buku buku yang adae disitok (rumah baca Semayong Institute) memang untok dibace/dipinjamkan ke warge. Cume abang minta’ tolong ke adek-adek, bukunye dijage ye, supaye umurnye panjang sampai ke adek-adek kite nantek” jawab saya (kebetulan pengelola rumah baca lainnya tidak ada di tempat, dan hanya ada saya ketika itu) seraya meminta buku yang akan mereka pinjam untuk dicatat satu per satu.

Selesai menginventarisasi buku yang mereka pinjam, satu satu mereka pelan pelan berangsur untuk kembali kerumah, dengan masing masing membawa 1-2 buku.

Sampai tulisan ini dimuat, setidaknya kunjungan ke Rumah Baca sudah melebihi angka 100 orang, berikut yang meminjam.

Kalau ingin pintar, BELAJAR (wasiat yang disampaikan dalam Film Laskar Pelangi). Dan Buku adalah salah satu media yang tak bisa ditinggalkan untuk membuka wawasan dan pengayaan ilmu maupun pengembangan diri. Semoga, semakin banyak yang merasakan manfaat dari rumah baca ini.

 

Jepriadi

Direktur  Semayong Institute, Ketua Karang Taruna “Tunas Harapan Bersama” Desa Sungai Kumpai.